Wednesday, December 23, 2009

Salah Asuhan

SALAH ASUHAN
Judul tulisan ini sama dengan judul novel zaman dulu karangan Abdoel Moeis (1928), tetapi cerita, kesan dan pesannya tentunya tak sama. Manusia Indonesia semakin lama semakin tidak bermutu, sementara manusia negara lain semakin tinggi kualitasnya. Kalau manusianya semakin tidak bermutu sudah pasti bangsa dan negaranya semakin rongsok. Mengapa? Sebab manusia Indonesia sudah salah asuhan. Memang saat dalam kandungan sangat sehat dan lahirnyapun normal, tidak ada masalah. Ketika tumbuh, manusia Indonesia dipelihara dalam keadaan tidak benar atau salah asuhan.

Secara satu-persatu atau orang-perorang manusia Indonesia sudah salah asuhan, keseluruhanpun sebagai bangsa dan negara Indonesia sudah salah asuhan. Orang, Masyarakat, Rakyat, Bangsa, Pemerintah, Negara, semuanya salah asuhan. Kalau semuanya sudah salah asuhan maka tidak ada yang merasa “ada yang salah”. Semuanya merasa bahwa merekalah yang benar.

Orang lain tentunya lebih banyak tidak sepedapat dengan pernyataan diatas, paling tidaknya mengakui hanya segelintir saja orang Indonesia yang salah asuhan.
Sejak mulai mengenal dunia kita sudah biasa diperkenalkan dengan kemunafikan. Perlunya menjunjung nilai-nilai kejujuran hanyalah retorika belaka. Semua kata-kata tidak bermakna karena bertolak belakang dengan perbuatan. Yang ada hanya serimonial “kami peduli”, setelah itu, ”bisnis seperti biasanya”.

Diajarkan kita untuk menguasai jurus jalan pintas. Tidak perlu giat menuntut ilmu, yang penting memperoleh gelar serjana. Ingin kaya tapi tak mau kerja keras. Ingin dihormati orang tanpa perlu menghargai sama yang lain. Yang penting dianggap hebat, meskipun bukan hebat benaran. Pukul dulu, urusan belakangan.
Membeli secarik kertas gelar serjana, adalah jalan pintas menjadi pintar. Membeli jabatan adalah cara cepat jadi kaya. Membagi-bagi sembako hasil korupsi adalah yang efektif agar dihormati orang banyak. Permasalahan hukum adalah soal tawar menawar, berapa bayaran yang menyelesaikan perkara.

Kejahatan dan kebaikan dikira dapat dipertukarkan saling meringankan. Makanya orang koruptor, perampok, pelacur, dan penipu, semuasnya taat beribadah, sangat dermawan, dan sangat “kami peduli”. Mereka kira sama halnya air panas dicampur air dingin menjadi air normal. Tidak mengakui kemunafikan, memang begitulah adanya.

Tidak ada kearifan yang diteladani, yang ada hanyalah pembelajaran kemunafikan ditiru, diulang-ulang, dan disebarkan oleh orang tua kepada anak, guru kepada murid, atasan kepada bawahan, pejabat kepada masyarakat, wakil rakyat kepada rakyat, generasi kepada generasi. Akhirnya semuanya salah asuhan, dan selamanya salah asuhan. Semoga tidak demikian!

Wednesday, December 16, 2009

Alam Vs Kapitalisme

Alam Vs Kapitalisme

Kapitalisme adalah makhluk peliharaan manusia modern yang bermuka dua, satu sisi berupa pesona menjanjikan kenikmatan dan kepuasan, sisi lain menyembunyikan wajah ketamakan, kejam dan perusak. Pada awal zaman modernisasi, pesona kapitalisme memberikan kepuasan dan kenikmatan kepada manusia secara menakjubkan, tidak tampak ada persoalan dengan kelakuannyanya. Seiring dengan meningkatnya pesonanya, kapitalisme berlahan-lahan menampakkan rupa aslinya yakni keserakahan dan ketamakan. Makhluk kapitalisme melahap seluruh sumberdaya bumi untuk memberikan kesenangan dan kenikmatan kepada manusia. Kapitalisme selalu lapar dan haus, buas menelan dan menghisap sumberdaya bumi. Sifatnya tidak pernah puas walau seberapapun sumberdaya bumi ditelannya. Rasa kurang puas selalu menuntun perbuatanya.

Kapitalis juga berkembang biak. Bayi kapitalis memakan segalanya agar tumbuh meraksasa dan berkembang biak melahirkan bayi raksasa-raksasa lain sehingga alam semesta dikuasai oleh raksasa-raksasa kapitalis. Pada saatnya raksasa kapitalis yang lebih besar akan memangsa raksasa yang lebih lemah sehingga yang ada hanyalah monster raksasa-raksasa yang lebih raksasa dan paling monster.

Alam melawan keserakahan raksasa kapitalis dengan caranya sendiri. Raksasa kapitali harus selalu mengerahkan segala kemampuannya agar tetap setia memberikan kenikmatan dan kesenangan kepada manusia. Dalam perlawanannya, alam beradaftasi dengan mewujudkan malapetaka bagi manusia berupa bencana alam. Wabah penyakit misterius mematikan, badai menerjang tak tentu waktu dan tempat, laut menelan daratan, banjir longsor merobek rupa bumi, hutan hijau jadi gurun, limbah beracun dimana-mana, dan bumi memanas. Kenikmatan yang diberikan raksasa kapitalis pada akhirnya menuai penderitaan. Hanya segelintir manusia yang selalu lebih kapital dapat bertahan mereguh kenikmatan, manusia yang lebih banyak adalah korbannya.

Makhluk-makhluk asli dan awal mendiami bumi sudah banyak terlanjur punah, yang tersisapun menyusul punah satu demi satu. Manusia yang merasa sebagai makhluk paling cerdas berupaya beradaptasi dengan memodifikasi alam dan merekayasa spesies.. Tanah, air, laut, sungai, danau, gunung, udara, awan dan angin semuanya tidak dapat dikembalikan seperti semula. Pad akhirnya manusia akan kalah menantang alam semesta karena manusia adalah bagian dari alam itu sendiri. Manusia memunahkan spesiesnya sendiri, Lalu apakah makna keunggulan dan kecerdasan spesies manusia?

Kedai Kopi

KEDAI KOPI

Di kampung saya di Sumatera Utara dibilang Kedei Kopi, kalau di Jakarta disebut Warung Kopi. Pengertian dan fungsinya sama yaitu tempat berjualan minuman kopi, meskipun di tempat tersebut juga dijual teh manis, pisang goreng, kue, mie rebus dan lain sebaginya namun tetap disebut kedai kopi. Tapi kalau di kedai tersebut ada juga menjual nasi maka sebutannya menjadi kedai nasi atau rumah makan. Setiap kedai nasi atau rumah makan juga melayani pembeli minum kopi namun tidak ada kedai kopi yang menjual nasi. Meskipun sekarang orang di kedai kopi lebih banyak minum teh, namun tempat tersebut tidak pernah disebut kedai teh.

Ciri khas kedai kopi adalah banyak meja dan kursi atau bangku sebagai tempat orang duduk. Tempat dan bangunan kedai kopi umumnya sederhana namun nyaman untuk minum kopi sambil ngobrol. Di setiap kampung di Sumatera Utara dan Aceh pasti ditemukan kedai kopi, bahkan satu kampung ada yang memiliki puluhan kedai kopi. Sangat jarang orang yang minum kopi atau minum teh di rumah, semuanya di kedai kopi. Kedai kopi dibuka sepanjang hari dan malam, bahkan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, non stop. Siapa saja boleh membuka kedai kopi dan siapa saja boleh datang ke kedai kopi.
Fungsi utama kedai adalah tempat orang menjual dan membeli suatu barang, seperti kedai nasi, kedai kelontong, tidak demikian dengan kedai kopi. Kedai kopi memiliki fungsi lain yang sangat unik yaitu sebagai forum komunikasi dan interaksi sosial. Orang berkunjung ke kedai kopi tidak hanya untuk memenuhi dahaga minum kopi tapi juga memenuhi hasrat kebutuhan berinteraksi sosial. Bahkan banyak orang datang ke kedai kopi tapi maksud utama dan keinginan sebenarnya adalah untuk berhubungan sosial.

Di Kedai kopi orang-orang saling menyapa, mengobrol berbagi cerita atau hanya mendengarkan pembicaraan orang lain. Semua orang bebas berbicara dan bercerita tentang apa saja. Di satu meja ada beberapa orang tua yang ngobrol tentang hama tikus yang menyerang sawah mereka, dimeja sebelahnya ada sekelompok anak muda memperdebatkan calon Bupati yang sedang bertarung dalam pemilihan kepala daerah, sementara di meja yang lain ada orang serius memperhatikan yang lagi main catur. Anda bebas nimbrung mengomentari pembicaraan disalah satu meja dan kemudian ngobrol lagi ke meja yang lain dengan cerita lain, atau seketika anda keluar dari kedai kopi meninggalkan perdebatan, semuanya bebas tanpa rasa sungkan. Waktu berjalan alami tidak diatur jam, orang-orang datang dan keluar silh berganti sepanjang hari sepanjang malam.

Kedai kopi adalah tempat pertemuan informal sebagi forum silaturahmi dan komunikasi, pusat informasi, tempat belajar dan tempat hiburan yang murah meriah dan efektif. Banyak kebutuhan dapat diperoleh di kedai kopi, banyak perselisihan dapat diselesaikan di kedai kopi dan juga banyak persoalan muncul diawali dari kedai kopi. Kalau ingin mengenal desa dan penduduknya di Sumatera Utara, kunjungilah kedai kopinya!