Tuesday, January 19, 2010

ARTI SEBUAH GELAR

Setiap kali membicarakan tentang pendidikan, saya selalu tidak dapat menghindari persepsi mengasosiasikannya dengan titel atau gelar akademik, seperti, Drs, Ir, dr, SH, M.Sc, Profesor, dan seterusnya. Titel dan gelar tersebut adalah ukuran puncak pencapaian dari seluruh proses pendidikan. Sering saya baca surat dan kartu undangan yang menulis nama seseorang disertai dengan seluruh titel dan gelarnya di depan dan belakang nama aslinya, demikian panjangnya ─itupun sudah disingkat gelarnya─hingga saya kesulitan mengejanya, apalagi menyebut lengkap kepanjangan singkatan tersebut, contoh misalnya Prof.Dr.Ir.H. R. Sisuar Sair, M.Eng, M.DEA. Dengan menyebut nama dan gelarnya saja saya sudah “ngeri” membayangkan kehebatannya, apalagi kalau berhadapan dengan orangnya.

Persepsi ini sudah terbentuk sejak di Sekolah Dasar, karena guru sekolah dan masyarakat mengajari saya untuk persepsi yang sama. Dulu di era 70-an di kampung saya ─termasuk desa terpadat di kecamatan dan di lintasi jalan negara─ tidak pernah melihat tampang bagaimana hebatnya seorang serjana, karena di kampung itu tidak seorangpun penduduknya bergelar serjana. Hanya Pak Camat bergelar serjana muda (titelnya BA) yang selalu melintas mengenderai mobil VW kodok (jenis mobil dinas camat di seluruh Indonesia) yang pernah saya lihat.

Pada era tahun 70-an, dengan bermodalkan titel dan gelar akademik, sipunya gelar akan terjamin memperoleh pekerjaan dambaan banyak orang seperti pegawai negeri yang merupakan pintu masuk menjadi pejabat pemerintah ─sebagai lambang kebanggaan dan kesuksesan─ serta status sosial lebih terhormat di masyarakat. Status pendidikan seseorang berbanding lurus dengan status sosial termasuk tentunya kekayaannya, semakin tinggi pendidikannya, semakin kaya dan semakin terhormatlah orang tersebut dimasyarakat. Hal inilah yang meyebabkan semua orang tua menginginkan anaknya memperoleh gelar sarjana, bahkan ada yang rela menjual seluruh harta pusaka serta sawah ladangnya ─sekalipun mungkin kuburan neneknya─untuk membiayai sekolah anaknya.

Meskipun saat ini tidak ada jaminan pemilik titel segera memperoleh pekerajaan yang layak, namun persepsi dan asosiasi gelar akademik sebagai simbol pencapaian proses pendidikan masih kuat di masyarakat. Memang ada sedikit perubahan, kalau di era 70-an gelar serjana strata satu (S1) sudah hebat, kini banyak yang merasa kurang pede kalau hanya menyandang gelar S1, makanya banyak yang berbondong-bondong mengejar gelar yang lebih tinggi lagi ke strata S2 dan S3.

Saya dulu pernah berkeinginan setelah tamat SMA melanjut ke program polyteknik. Saya masih ingat kata ibu saya “Apa gelarnya nanti setelah kau tamat kuliah?” Saya jawab “Tidak ada gelarnya, tempat kuliah itu khusus mendidik agar kita ahli dan trampil.”. “Untuk apa susah-susah membiayai kuliah kalau tidak mendapat gelar” itu pendapat ibu saya. Sering juga saya lihat orang meminjam uang kepada seseorang dengan memborohkan (sebagai jaminan) ijazah serjananya. Dulu saya anggap itu biasa saja, izajah itu memang berharga karena untuk memperolehnya perlu biaya besar sehingga wajar dapat digadaikan.

Bisa dibayangkan bagaimana mindernya kalau orang hanya tamatan SMA, apalagi kalau status sosialnya sudah agak lumayan, contoh misalnya calon legislatif. Kuliah lagi bukan solusi, karena selain buang waktu, “menambah pekerjaan mengurangi gaji”, juga merasa kepintarannya sudah setara bahkan melebihi titel yang akan disandangnya. Dengan memalsukan ijazah jadi sasaran empuk dimanfaatkan orang syrik, dan terlampau beresiko masuk bui. Pilihan terbaik adalah membeli ijazah tanda tamat belajar/kuliah, tanda berhak menyandang gelar akademik, asli bukan palsu karena secara syah dikeluarkan oleh perguruan tinggi yang syah pula.

Banyak juga orang yang tidak mengakui membeli ijazah, karena semua prosedur akademik dilaluinya dengan syah dan dapat dibukltikan, seperti mengikuti perkuliahan, menyusun skripsi/Tesis/Desertasi, ujian/sidang, dan wisuda. Kawan saya seorang pejabat eselon II di pemerintah kabupaten memperoleh gelar S2 Megister dengan mudah tapi tidak murah. Setahu saya dia hanya kuliah selama 4 kali, satu kali sebulan selama 4 bulan. Tak lama kemudian, sambil menyerahkan sekeping VCD dia minta tolong kepada seorang kawan juga untuk merubah judul tesis pada VCD dimaksud dengan namanya. Dan 2 bulan kemudian saya melihat video acara wisudanya bersama ribuan wisudawan lainnya di gedung megah di Jakarta. Hanya dalam tempo sekitar 6 bulan kawan tadi sudah berhak menyandang gelar M.Si.

Ada juga kawan saya yang lain, seorang calon legeslatif yang tidak mernah menjadi legislatif karena “kurang gizi”, dia sudah memiliki gelar S.Ag (Serjana Agama) tapi saya sama sekali tidak pernah melihatnya kuliah. Kawan ini juga beberapa kali mendapat undangan untuk program Doktoral. Syaratnya hanya perlu mengirimkan biodata, karya tulis, beserta biayanya kepada lembaga tersebut dan dalam tempo tidak terlalu lama yang bersangkutan akan diundang untuk mengikuti acara wisuda. Kawan saya itu tidak pernah menanggapi surat undangan tersebut, malah pernah menyerahkannya pada saya. Apa sebab pastinya dia tidak berminat saya tidak tahu, tapi yang jelas telpon gengamnya saja sering kekurangan pulsa karena tidak sanggup membelinya.

Persis disamping kantor saya di Pekanbaru terdapat sebuah kampus sekolah tinggi ekonomi. Karena memang hanya berbatas dinding dengan ruang kerja saya, saya sering mendengar mereka tertawa-tawa saat kuliah. Kampusnya seperti ruko berlantai tiga dan berhalaman sempit, yang membedakannya dengan ruko adalah adanya tulisan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dengan huruf sangat besar yang tertempel di dinding depan lantai paling atas menghadap jalan raya, seolah mempertegas bahwa bangunan tersebut adalah kampus. Selain itu ada papan merek yang menyebutkan berbagai ragam jurusan yang tersedia. Anak saya yang masih kelas 3 SD pernah bertanya apa bangunan yang disamping kantor saya itu, saya bilang itu kampus tempat orang kuliah. Anak saya tidak dapat menerima penjelasan saya karena menurutnya kalau kampus bangunannya besar dan halamannya luas.

Tidak seperti kampus biasanya, kampus itu hanya ramai malam hari atau hari libur (Sabtu Minggu) karena kuliahnya memang hanya pada saat-saat tersebut. Setiap malam kuliah saya lihat puluhan mobil-mobil mewah milik mahasiswa berdesakan berjajar di luar halaman dipinggir jalan hingga ratusan meter dari kampus. Mahasiswanya kebanyakan sudah berumur diatas 35 tahun, dan dari penampilannya sudah matang luar dan dalam. Saya tidak mendalami bagaimana proses akademiknya disitu, tapi dapat saya simpulkan bahwa mereka yang kuliah disitu sangat membutuhkan gelar serjana, bukan ilmu. Orang berusaha memperoleh gelar serjana karena dengan gelar tersebut modal untuk mendapat pekerjaan, dengan bekerja akan mendapat uang untuk dapat membeli mobil mewah. Lantas, yang membuat saya heran, mengapa orang yang sudah punya mobil mewah masih berusaha memperoleh gelar? Dan kalaupun butuh gelar serjana, bukankah mereka sanggup membeli Ijazah serjana tanpa harus kuliah? Setelah saya renungkan jawabannya, ibarat orang kaya pemancing ikan, memang berhasil menangkap ikan adalah tujuan utama pemancing, tapi dikasih ikanpun belum tentu dia mau, karena proses mendapatkan ikannya itulah yang terpenting. Sama halnya, proses mengalami kuliah itulah yang penting, sebagai sugesti untuk mereka bahwa memang pantas dapat gelar sarjananya.

Bagaimana kualitas keilmuan penyandang gelar akademik di Indonesia? Jawabannya memang relatif. Banyak orang mengakui kalau kualitas serjana (S1) saat ini masih kalah dengan tamatan Sekolah Rakyat (tingkatan SD sekarang) zaman penjajahan Belanda. Saya ada kawan bergelar M.Si (S2) ─bukan kawan saya ceritakan dimuka─ dari perguruan tinggi negeri ternama tapi kualitas ilmunya diam-diam dipertanyakan oleh kawan-kawannya. Bahkan, ada lagi kawan bergelar Doktor (S3) lulusan Australia bidang eksakta yang pemahamannya terhadap sesuatu hal yang masih relevan dengan bidangnya, membuat orang mempertanyakan ─diluar forum tentunya─ kualitas doktornya.

Banyak tokoh-tokoh negarawan kita yang tidak memiliki gelar sarjana tapi diakui dunia kecendikiawanannya dan integitas pengetahuannya karena dengan bangga serta penuh percaya diri mengemukakan pemikirannya dan dapat mempertahankan pendapatnya dalam lingkungan akademisi tertinggi sekalipun.
Janganlah jadi pengecut berlindung dibalik gelar agar disegani kepintarannya, tunjukkan jati dirimu sebenarnya, tanggalkan gelarmu! Pujangga William Shakespeare mengatakan “kita katakan itu mawar, dengan sebutan lainpun bunga itu tetap harum, apalah arti sebuah nama”.